Introspeksi
Seperti sungai waktu mengalir deras berliku menyeret diri pada muara..
Bagaimana ini diri berpegang..? dari derasnya pada yang sama hanyut terbawa arus..
Hidup adalah waktu tersisa, di isi sebelum kalah..
Bagaimana ini ingin kembali..? diri sudah terlanjur ada..
(Syaikh Pidi Baiq - Imam Besar The Panas Dalam)
Introspeksi berarti proses pengamatan terhadap diri sendiri dan pengungkapan pemikiran dalam yang disadari, keinginan, dan sensasi. Proses tersebut berupa proses mental yang disadari dan biasanya dengan maksud tertentu dengan berlandaskan pada pikiran dan perasaannya. @ Introspeksi - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
sejak kecil diri ini sebenarnya sudah dituntut menjadi tua, selalu berhadapan dengan tua, dan dipaksa memaknai tua.. hingga pura-pura tidak sadar bahwa diri ini sedang dituakan..
kata diri: "aku tua", balas diri: "ya.. aku memang tua sejak ajali".
dan do'a diri ini agar ruh tua selalu dalam lindungan الله
al-faatihah..
kata diri: "aku tua", balas diri: "ya.. aku memang tua sejak ajali".
dan do'a diri ini agar ruh tua selalu dalam lindungan الله
wahai yang mulia ruh andi..
terima kasih kepadamu yang tak lelahnya selalu mengajarkanku setiap hari untuk berfikir tua, agar tidak menjadi bangkai muda..
kepada tuan mulia ruh andi yang ada dalam jasad raga ini, semoga الله selalu melindungi, memberikan rahmat dan hidayah yang selalu menetap, dan semoga di husnulkhotimahkan ketika lepas, terlepas, melepaskan atau dilepaskan dari jasad raga ini dalam ketetapan iman dan taqwamu (hakikat dan syariat) pada di dalam الله.. aamiiin..
al-faatihah..
Do'a Akhir Tahun
Caranya:
Do'a akhir tahun dibaca 3 kali pada akhir waktu Ashar atau sebelum masuk waktu Maghrib pada akhir bulan Zulhijjah. Fadhilahnya adalah barang siapa membaca do'a Akhir Tahun Maka syaithan akan berkata “Kesusahanlah bagiku, dan sia-sia lah pekerjaanku menggoda anak Adam (manusia) pada satu tahun ini, karena mereka mengerjakan amal ini hanya dalam waktu lebih kurang 1 jam".
Sebelum membaca doa, baca dulu surat Al-fatihah 1 kali kemudian baca doa Akhir tahun minimal 3 kali dan akhiri dengan membaca kembali surat Al-Fatihah 1 kali.
Do'anya seperti ini:
“Bismillaahir rahmaanir rahiim. Washalallaahu ‘alaa sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shahbihii wa salam. Allahumma maa ‘amiltu fii haadzihis sanatilmimmaa nahaitanii ‘anhu falam atub minhu walam tardlahu walam tansahuu wahalimta ‘alayya ba’da qudratika ‘alaa ‘uquubatii wada’autanii ilattaubati minhu ba’da juratii ‘alaa ma’shiyatika fainnii astaghfiruka faghfirli. Wamaa ‘amiltu fiihaa mimmaa tardlaa-hu wawa’adtanii ‘alaihits tsawaaba fa as alukallaahumma yaa kariimu yaa dzal jalaa-li wal ikraami an tataqabbalaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shahbihii wasallam” (3x)
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat. Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu. Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah. Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Amin yaa rabbal ‘alamin.
Do'a Awal Tahun
Caranya:
Dibaca 3 kali selepas shalat Maghrib pada malam 1 Muharram. Sebelum membaca doa, baca dulu surat Al-fatihah 1 kali kemudian baca doa Akhir tahun minimal 3 kali dan akhiri dengan membaca kembali surat Al-Fatihah 1 kali. Fadhilahnya Barangsiapa yang membaca do’a awal tahun, Maka syaithan akan berkata :
"Alangkah bahagianya orang itu, dia akan dilindungi dari godaan godaanku pada sisa umurnya, karena Allah mengutus dua malaikat untuk menjaganya dari godaan godaanku."
Do'anya seperti ini:
"Bismillaahir-rahmaanir-rahiim Bismillaahir-rahmaanir-rahiim Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa ‘alaa fadhlikal-’azhimi wujuudikal-mu’awwali, wa haadza ‘aamun jadidun qad aqbala ilaina nas’alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa’ihi wa junuudihi wal’auna ‘alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu’i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam."
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya. Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung. Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan, agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta para keluarganya dan sahabatnya. Amin yaa rabbal ‘alamin.
دعاء حامل
١ـ بسم الله الرحمن الرحيم، اللهم احفظ ولدي
مادام فى بطنى وجعله صورة حسنة جميلا او جميلة كاملة وثبت فى قلبه عقلا تاما وإيمانا
دائما ويقينا وبرسولك مادام فى حياتك فى الدين والدنيا والآخره
٢ـ اللهم فرجه من
بطنى وقت ولادتي سهلا وسلاما وسعيدا فى الدين والدنيا والاخره برحمتك ياارحم الراحمين
x٣
٣ـ اللهم اجعل ولدى
سعيدا مباركا وعالما وحافظا من الكلام المكنون وكتاب المحفوظ، ولاتجعله كذبا وخيانة
من الكلام النفوق المكدوب
٤ـ اللهم طول عموره
وصحح جساده وفاصح لسانه لقراة القرآن والحديث
٥ـ اللهم احفظ صبيا
الذى اخرخ من عالم الظلمات إلى عالم الانوار، ربناهب لنا من ازواجنا وذريتنا قرة اعين
واجعلنا للمتقين اماما
(no 1,2 ketika hamil, no 3,4,5 didawamkan selamanya)
أعيذه بالواحد الصمد من شركل دى حسد x٧
حنى ولدت مريم ومريم ولدت عيسى اجرخ ايهاالمولود بقدرة الله، والله اخرجكم من بطون امهاتكم ترتا اخرى
(وقت ملاحركن)
١ـ الله لااله الا
هوالحي القيوم، لاتأخذه سنة ولا نوم، له ما فى السموات وما فى الارض، من ذاالذى يشفع
عنده الا بإذنه، يعلم ما بين أيديهم وما خلفهم، ولا يحيطون بشئ من علمه الا بما شآء،
وسع كرسيه السموات والارض ولا يؤده خفظهما وهو العلى العظيم
٢ـ دعأ نور بوة
٣ـ إن ربكم الله الذى
خلق السموات والارض فى ستة ايام ثم استوى على العرشى يغشى الليل النهار يطلبه حثيثا
والشمش والقمر والنجوم مسخرات بأمره الا له الخلق والامر تبارك الله رب العالمين ـ سورة الفلق ـ سورة الناس
٤ـ لااله الاالله
العظيم الحليم، لااله الاالله رب العرشى العظيم، لااله الاالله رب السموات السبع ورب
الارض ورب العرشى الكريم
Ketika bayi lahir, baca di telinga
kanannya: Adzan + Al-Ikhlas
Lalu bacakan di telinga kirinya: Iqomah
+ Al-Falaq + An-Nas
yaa waasi'almaghfiroh..!! ighfirliiiiii......!!
Andy Ahmad Fairussalam on Friday, February 19, 2010 at 7:19pm
semoga teriakan batinku untuk yang ke 1000x ini sampai ke 'Arsyil'adzim..
'alaika tawakkaltu wa 'alaika nastaghfiru yaa Rabb.. hiks..hiks.. :'(
'alaika tawakkaltu wa 'alaika nastaghfiru yaa Rabb.. hiks..hiks.. :'(
Tuhan memang telah mengkaruniai berbagai potensi dalam diri setiap manusia. Seperti akal pikiran, hati nurani, anggota badan yang sempurna. Namun meski setiap orang telah dibekali dengan semua itu, tapi ternyata tidak setiap orang bisa memanfaatkan potensi dirinya dengan baik dan maksimal. Akal misalnya, sebagian terdapat orang-orang yang cerdas, mudah menangkap ilmu pengetahuan, tapi disebagian orang yang lain ada yang kesulitan menerima ilmu.
Bila kita merasa kesulitan menangkap materi pelajaran, (baik ilmu pengetahuan ataupun Ngelmu ghaib), selain dengan jalan meningkatkan belajar yang intensif, iringi juga dengan melakukan amalan berikut ini.
- Berpuasalah Mutih selama 3 hari berturut-turut yaitu pada hari Selasa, Rabu, Kamis. Niat puasa sunat mutlak, karena Allah Ta’ala.
- Pada hari Kamis-nya (malam Jumat) tidak boleh tidur sampai pagi (Melek).
- Selama menjalani puasa, bacalah doa berikut 3 kali setiap selesai shalat fardhu.
- Dan dibaca 27 kali diwaktu tengah malam.
- Doa yang dibaca:
Bismillahirrohmanirrohim...
Allohummaftah ’alaiya futuuhal ‘aarifiin bihikmatika,
wansyur ’alaiya rohmataka yaa Dzaljalaali wal ikrom.
Allohummaftah ’alaiya futuuhal ‘aarifiin bihikmatika,
wansyur ’alaiya rohmataka yaa Dzaljalaali wal ikrom.
Artinya: “Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yaa Allah dengan hikmah-Mu bukakanlah diriku bagaikan terbukanya para ahli makrifat dan bentangkanlah rahmat-Mu terhadapku wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”
Niatnya :
"USHOLLI SUNNATAL MUTHLAK ROK'ATAINI LILLAAHI TA'AALAA" (bermaksud dalam hati : AKU BERMAKSUD SHOLAT MUTHLAK 2 ROKA'AT KARENA ALLOH TA'AALAA)
Ayatnya : Pada setiap SATU Roka'at membaca :
1. Al-Zalzalah dibaca 7x
2. Al-Ikhlas dibaca 7x
3. Al-Falaq dibaca 1x
4. An-Naas dibaca 1x
kemudian bacalah do'a dibawah ini di dalam Sujud Akhir :
"ALLOHUMMA 'INNI ASTAW DI'UKA DINII WA 'IIMANII FA AHFADHUMAA 'ALAYYA FII HAYATII WA 'INDA WAFATII WA BA'DA MAMAATI"
"Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku titipkan kepada-Mu agamaku dan imanku. Maka jagalah keduanya dalam diriku, ketika hidup, ketika matiku dan sesudah matiku"
"USHOLLI SUNNATAL MUTHLAK ROK'ATAINI LILLAAHI TA'AALAA" (bermaksud dalam hati : AKU BERMAKSUD SHOLAT MUTHLAK 2 ROKA'AT KARENA ALLOH TA'AALAA)
Ayatnya : Pada setiap SATU Roka'at membaca :
1. Al-Zalzalah dibaca 7x
2. Al-Ikhlas dibaca 7x
3. Al-Falaq dibaca 1x
4. An-Naas dibaca 1x
kemudian bacalah do'a dibawah ini di dalam Sujud Akhir :
"ALLOHUMMA 'INNI ASTAW DI'UKA DINII WA 'IIMANII FA AHFADHUMAA 'ALAYYA FII HAYATII WA 'INDA WAFATII WA BA'DA MAMAATI"
"Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku titipkan kepada-Mu agamaku dan imanku. Maka jagalah keduanya dalam diriku, ketika hidup, ketika matiku dan sesudah matiku"
Waktunya kapan saja boleh dikerjakan sesuka atau ikhlasnya, Insya Alloh ganjaran pahalanya disampaikan kepada Ahli kubur / Ibu dan Bapak kita.
Niatnya : "USHOLLI SUNNATALHADIYYAH ROK'ATAINI LILLAAHI TA'AALAA"
Setiap Roka'at membaca :
1. Ayat Kursyi - 1x
2. At-Takatsur - 1x
3. Al-Ikhlas - 11x
Sesudah salam baca Do'a :
"ALLOOHUMMA INNI SHOLLAITU HAADIHIS-SHOLATA WA ANTA TA'LAMU MAA URIID,
ALLOOHUMMAB'AS TSAWAA BAHAA ILAA QOBRI (WALIDAYYA) AU FULAN (Sebutkan Nama Ahli Qubur)"
Setelah itu membaca :
1. Al-Fatihah - 1x
2. Al-Ikhlas - 11x
3. Al-Falaq - 1x
4. An-Naas - 1x
DOA :
"Allohummaj'al wa awshil mitsla tsawaaba maa qoro'tuha ilaa arwaahi walidayya
Allohummaghfirlahumma warhamhuma wa'afihima wa'fu'anhuma
wa akrim nuzulahumma wa wassi'madkholahumaa wataqobbal hasanaatihimaa
wa kaffir sayyi'atihimaa birrohmatika yaa arhammarroohimiin.."
Ampuni.. Maafkan.. Muliakanlah ibu dan bapak-ku..
Niatnya : "USHOLLI SUNNATALHADIYYAH ROK'ATAINI LILLAAHI TA'AALAA"
Setiap Roka'at membaca :
1. Ayat Kursyi - 1x
2. At-Takatsur - 1x
3. Al-Ikhlas - 11x
Sesudah salam baca Do'a :
"ALLOOHUMMA INNI SHOLLAITU HAADIHIS-SHOLATA WA ANTA TA'LAMU MAA URIID,
ALLOOHUMMAB'AS TSAWAA BAHAA ILAA QOBRI (WALIDAYYA) AU FULAN (Sebutkan Nama Ahli Qubur)"
Setelah itu membaca :
1. Al-Fatihah - 1x
2. Al-Ikhlas - 11x
3. Al-Falaq - 1x
4. An-Naas - 1x
DOA :
"Allohummaj'al wa awshil mitsla tsawaaba maa qoro'tuha ilaa arwaahi walidayya
Allohummaghfirlahumma warhamhuma wa'afihima wa'fu'anhuma
wa akrim nuzulahumma wa wassi'madkholahumaa wataqobbal hasanaatihimaa
wa kaffir sayyi'atihimaa birrohmatika yaa arhammarroohimiin.."
Ampuni.. Maafkan.. Muliakanlah ibu dan bapak-ku..
Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian mere-ka mengucapkan,
“Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat ke-padaNya”
Tetapi kalimat-kalimat di atas tidak membekas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat jenis ini adalah perbuatan orang-orang dusta.
Para ulama – semoga Allah memberi balasan yang se-baik-baiknya kepada mereka telah menjelaskan hakikat istighfar dan taubat.
Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani menerangkan: “Dalam istilah syara’, taubat adalah meninggalkan dosa karena ke-burukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berke-inginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha mela-kukan apa yang bisa diulangi (diganti). Jika keempat hal itu telah terpenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna”
Imam An-Nawawi dengan redaksionalnya sendiri menje-laskan: “Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hu-kumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga. Pertama, hendaknya ia menjauhi maksiat tersebut. Kedua, ia harus menyesali per-buatan (maksiat)nya. Ketiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah.
Jika taubat itu berkaitan dengan manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan keempat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika ber-bentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengem-balikannya. Jika berupa had (hukuman) tuduhan atau seje-nisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk mem-balasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.”
Adapun istighfar, sebagaimana diterangkan Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani adalah “Meminta (ampunan) dengan ucapan dan perbuatan. Dan firman Allah:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.” (Nuh: 10).
Tidaklah berarti bahwa mereka diperintahkan meminta ampun hanya dengan lisan semata, tetapi dengan lisan dan perbuatan. Bahkan hingga dikatakan, memohon ampun (istighfar) hanya dengan lisan saja tanpa disertai perbuatan adalah pekerjaan para pendusta.
B. Dalil Syar’i Bahwa Istighfar dan Taubat Termasuk Kunci Rizki
Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadits me-nunjukkan bahwa istighfar dan taubat termasuk sebab-sebab rizki dengan karunia Allah . Di bawah ini beberapa nash dimaksud:
1. Apa yang disebutkan Allah tentang Nuh yang berkata kepada kaumnya :
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (Nuh: 10-12).
Ayat-ayat di atas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut dengan istighfar.
- Ampunan Allah terhadap dosa-dosanya. Berdasarkan fir-manNya: “Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.”
- Diturunkannya hujan yang lebat oleh Allah. Ibnu Abbas radhiallaahu anhu berkata ” ” adalah (hujan) yang turun dengan deras.
- Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak. Dalam menafsirkan ayat:Atha’ berkata: “Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian”.
- Allah akan menjadikan untuknya kebun-kebun.
- Allah akan menjadikan untuknya sungai-sungai. Imam Al-Qurthubi berkata: “Dalam ayat ini, juga disebutkan dalam (surat Hud) adalah dalil yang menunjukkan bah-wa istighfar merupakan salah satu sarana meminta ditu-runkannya rizki dan hujan.”
Demikianlah, dan Amirul mukminin Umar bin Khaththab juga berpegang dengan apa yang terkandung dalam ayat-ayat ini ketika beliau memohon hujan dari Allah .
Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi: “Bahwasanya Umar keluar untuk memohon hujan bersama orang ba-nyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘Aku tidak mendengar Anda memohon hujan’. Maka ia menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan. Lalu beliau membaca ayat:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.” (Nuh: 10-11).
Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan istighfar (memohon ampun) kepada setiap orang yang mengadukan kepadanya tentang kegersangan, kefakiran, sedikitnya ketu-runan dan kekeringan kebun-kebun.
Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bah-wasanya ia berkata: “Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” Yang lain lagi berkata kepadanya, “Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!” Maka beliau mengatakan kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, “Beristighfarlah kepa-da Allah!”
Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepadanya, ‘Banyak orang yang mengadukan bermacam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengata-kan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12).
Allahu Akbar! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar! Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-ham-baMu yang pandai beristighfar. Dan karuniakanlah kepada kami buahnya, di dunia maupun di akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Amin, wahai Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus MakhlukNya.
2. Ayat lain adalah firman Allah yang menceritakan ten-tang seruan Hud kepada kaumnya agar beristighfar.
“Dan (Hud berkata), ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’.” (Hud:52).
Al-Hafizh Ibnu katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan: “Kemudian Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar yang dengannya dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintahkan mereka bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaannya. Karena itu Allah berfirman:
“Niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atas-mu”.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki sifat taubat dan istighfar, dan mudahkanlah rizki-rizki kami, lancarkanlah urusan-urusan kami serta jagalah keadaan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Amin, wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.
3. Ayat yang lain adalah firman Allah:
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” (Hud: 3).
Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang yang beristighfar dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya:
“Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu.” Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas adalah, “Ia akan menganugerahi rizki dan kelapangan kepada kalian”.
Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: “Inilah buah dari istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberi kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.
Dan janji Tuhan Yang Maha Mulia itu diutarakan dalam bentuk pemberian balasan sesuai dengan syaratnya. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata: “Ayat yang mulia tersebut menunjukkan bahwa beristighfar dan ber-taubat kepada Allah dari dosa-dosa adalah sebab sehingga Allah menganugerahkan kenikmatan yang baik kepada orang yang melakukannya sampai pada waktu yang ditentu-kan. Allah memberikan balasan (yang baik) atas istighfar dan taubat itu dengan balasan berdasarkan syarat yang dite-tapkan”.
4. Dalil lain bahwa beristighfar dan taubat adalah di antara kunci-kunci rizki yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitan-nya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka”.
Dalam hadits yang mulia ini, Nabi yang jujur dan terpercaya, yang berbicara berdasarkan wahyu, mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang mem-perbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Memberi rizki, yang Memiliki kekuatan akan mem-berikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.
Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hen-daklah ia bersegera untuk memperbanyak istighfar (memo-hon ampun), baik dengan ucapan maupun perbuatan. Dan hendaknya setiap muslim waspada, sekali lagi hendaknya waspada, dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab itu adalah pekerjaan para pendusta.
Saat pertama kali pengantin pria menemui isterinya setelah aqad nikah, dianjurkan melakukan beberapa hal, sebagai berikut:
Pertama: Pengantin pria hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun isterinya seraya mendo’akan baginya. Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
“Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta do’akanlah dengan do’a berkah seraya mengucapkan: ‘Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.’”
Kedua: Hendaknya ia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at bersama isterinya.
Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata: “Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf (Shahabat dan Tabi’in).
1. Hadits dari Abu Sa’id maula (budak yang telah dimerdekakan) Abu Usaid.
Ia berkata: “Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah رضي الله عنهم. Lalu tibalah waktu shalat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka berkata: ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzarr) berkata: ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku, ‘Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua shalat dua raka’at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua!’”
2. Hadits dari Abu Waail.
Ia berkata, “Seseorang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, lalu ia berkata, ‘Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.’ ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari syaitan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan shalat dua raka’at di belakangmu. Lalu ucapkanlah (berdo’alah):
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِيْ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ
“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.”
Ketiga: Bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kemesraan. Misalnya dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya.
Hal ini berdasarkan hadits Asma’ binti Yazid binti as-Sakan radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: “Saya merias ‘Aisyah untuk Rasulullah صلی الله عليه وسلم. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk di samping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah صلی الله عليه وسلم disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.” ‘Asma binti Yazid berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah صلی الله عليه وسلم!’ Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.”
Keempat: Berdo’a sebelum jima’ (bersenggama), yaitu ketika seorang suami hendak menggauli isterinya, hendaklah ia membaca do’a:
بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ
مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”
Pertama: Pengantin pria hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun isterinya seraya mendo’akan baginya. Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا (وَلْيُسَمِّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ) وَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ، وَلْيَقُلْ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
“Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta do’akanlah dengan do’a berkah seraya mengucapkan: ‘Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.’” Kedua: Hendaknya ia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at bersama isterinya.
Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata: “Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf (Shahabat dan Tabi’in).
1. Hadits dari Abu Sa’id maula (budak yang telah dimerdekakan) Abu Usaid.
Ia berkata: “Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah رضي الله عنهم. Lalu tibalah waktu shalat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka berkata: ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzarr) berkata: ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku, ‘Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua shalat dua raka’at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua!’”
2. Hadits dari Abu Waail.
Ia berkata, “Seseorang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, lalu ia berkata, ‘Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.’ ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari syaitan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan shalat dua raka’at di belakangmu. Lalu ucapkanlah (berdo’alah):
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِيْ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْهُمْ، وَارْزُقْهُمْ مِنِّي، اَللَّهُمَّ اجْمَعْ بَيْنَنَا مَا جَمَعْتَ إِلَى خَيْرٍ، وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيْرٍ
“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.”
Ketiga: Bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kemesraan. Misalnya dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya.
Hal ini berdasarkan hadits Asma’ binti Yazid binti as-Sakan radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: “Saya merias ‘Aisyah untuk Rasulullah صلی الله عليه وسلم. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk di samping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah صلی الله عليه وسلم disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.” ‘Asma binti Yazid berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah صلی الله عليه وسلم!’ Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.”
Keempat: Berdo’a sebelum jima’ (bersenggama), yaitu ketika seorang suami hendak menggauli isterinya, hendaklah ia membaca do’a:
بِسْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ
مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”
Ibu... Sering kuteringat padamu betapa kurindukan engkau, Sejak kecil belum pernah lagi kudengar dari ucapanmu wahai ibu.. sebuah ucapan yang penuh kasih dan sayang, itu yang kurindukan selalu, ketika besarku hanya sedetik saja kumerasakan kasihmu, namun engkau tak lagi bersanding denganku, ibu pergi jauh dariku..
Pipi ini terasa hangat karena leleh air mata ketika mengingat engkau dengan kerinduan ini.. Aku merindukan apa yang belum pernah aku rasakan, aku sungguh menginginkan apa yang belum kudapatkan darimu ibu,tapi entah kapan lagi sampai diri ini lupa pelukan terakhir denganmu ibu, itu sangat kurindukan kembali, ibu sangat kurindukan hadirmu..
Aku ingin menunjukan bakti ini hanya kepadamu kasih sayang dan cinta ini juga hanya untukmu ibu, namun aku disini sementara engkau jauh disana aku merindukanmu ibu, dan kini hanyalah do'a dan air mata yang mengiringi kerinduanku, terbayang dipelupuk mataku derita ibu yang jauh disana tapi entah apa yang bisa dan dapat aku perbuat untuk baktiku selain do'a dan air mata ini..
Ibu... Tak pernah ku salahkan engkau atas semua yang telah terjadi karena bagiku engkau adalah bidadari yang telah melahirkanku, aku juga tahu ibu apa yang telah hadir sebagai takdir itulah yang harus aku jalani dan Allah sebagai saksi atas kehendak-Nya, aku ingin mencium tapak kakimu sujud sungkem padamu aku ingin bisa seperti mereka tapi aku sadar aku tak seberuntung mereka, dalam deras air mata do'a ini aku selalu memohon Allah slalu menjagamu, dan dari relung rasa kupanjatkan dengan segala lembut hati..
Ya Allah.. Tetapkan Ibu Sebagai Bidadari Surga-Mu..
Pada suatu hari, ketika Hasan al-Bashri thawaf di Ka’bah, Makkah, beliau bertemu dengan seorang pemuda yang memanggul keranjang di punggungnya. Beliau bertanya padanya apa isi keranjangnya. “Aku menggendong ibuku di dalamnya,” jawab pemuda itu. “Kami orang miskin. Selama bertahun-tahun, ibuku ingin beribadah haji ke Ka’bah, tetapi kami tak dapat membayar ongkos perjalanannya. Aku tahu persis keinginan ibuku itu amat kuat. Ia sudah terlalu tua untuk berjalan, tetapi ia selalu membicarakan Ka’bah, dan kapan saja ia memikirkannya, air matanya bergelinang. Aku tak sampai hati melihatnya seperti itu, maka aku membawanya di dalam keranjang ini sepanjang perjalanan dari Suriah ke Baitullah. Sekarang, kami sedang thawaf di Ka’bah! Orang-orang mengatakan bahwa hak orangtua sangat besar. Pemuda itu bertanya, “Ya Imam, apakah aku dapat membayar jasa ibuku dengan berbuat seperti ini untuknya?” Hasan al-Bashri menjawab, “Sekalipun engkau berbuat seperti ini lebih dari tujuh puluh kali, engkau takkan pernah dapat membayar sebuah tendanganmu ketika engkau berada di dalam perut ibumu!”
******
“Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia”
***
Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
*********
:: Kisah diambil dari buku Pencerah Mata Hati Karya Sheikh Muzaffer Ozak


